Jika kamu merasakan 5 gejala ini, sebaiknya kamu harus berhenti menggunakan media sosial.


Gedewidiana.blogspot.com



Siapa yang tak kenal dengan media sosial? Sejak pertama kali kemunculannya, situs ini telah menyita perhatian setiap orang yang ada di seluruh dunia.

Banyak pihak yang diuntungkan oleh layanan web yang bersifat  gratis ini. Entah itu berhasil memajukan usaha bisnis miliknya, berhasil menemukan pasangan hidup yang sudah sejak lama dinantikan,

 hingga sosial media sangat berjasa dalam mempertemukan seseorang yang sudah lama terpisah dengan keluarganya.

Lalu tahukah kalian sesuatu yang dapat berdampak positif bagi kehidupan kita tentunya juga bisa merugikan diri kita sendiri?
Dibawah ini ada lima gejala yang menandakan media sosial telah berdampak negatif dalam hidup seseorang dimulai dari point nomor satu.


1. Tak bisa berpaling dari media sosial meskipun hanya sesaat saja. 


Semakin lama media sosial semakin bekerja keras untuk meningkatkan fitur yang dimiliki, supaya pengguna semakin betah dan berlama lama dalam mengakses situs milik mereka.

Perlu diingat, sesungguhnya media sosial tak lebih dari sekedar situs web. Dan cara sebuah situs web menghasilkan pendapatan adalah dengan melalui metode adds atau iklan.

Jadi apabila semakin lama kita menghabiskan waktu dalam sebuah situs online, maka akan semakin banyak jumlah iklan yang dapat kita saksikan. Dengan kata lain akan semakin besar pula jumlah pendapatan perusahaan pemilik situs media sosial tersebut.

"Bagaimana bisa demikian?"

Semakin banyak jumlah akun pengguna aktif yang online setiap harinya, maka akan semakin menarik minat pihak sponsorship untuk memasang iklan mereka di situs media sosial yang bersangkutan.

Pertama kali saya mendaftar akun sosial media adalah ketika saya masih berusia 18 tahun. Dan pada saat itu memang benar media sosial seperti contohnya Facebook dapat membantu saya pribadi untuk terhubung kembali dengan kenalan lama yang sempat terpisah jarak dengan saya.

Facebook juga dilengkapi berbagai fitur hiburan seperti web based game yang bisa dimainkan secara gratis. Dan Karena web based game sifatnya online, maka kita juga bisa berbagi dan bermain bersama sahabat.

 Singkat cerita Facebook sangat atraktif bagi seukuran anak belasan tahun seperti saya di masa itu. Saya bisa saja mengomentari setiap post update yang dikirimkan oleh teman facebook selama seharian penuh.

Membaca Versi teks dari chapter manga terpopuler setiap minggunya. Berkirim pesan inbox dengan akun yang saya anggap photo profilnya menarik, bahkan hingga bertemu orang baru dan menjalin hubungan dengan orang tersebut.

Hingga pada saat ini tepatnya sudah tujuh tahun sejak pertama kali saya bergabung, sudah tak terhitung berapa banyak fitur Facebook yang terus secara inovatif ditambahkan.

Mulai dari fitur facebook group dimana kita bisa bertemu orang orang yang khusus memiliki kepentingan yang sama dengan diri kita, (bermanfaat bagi pelaku jual beli online)

filter untuk menambah daya tarik update post yang diunggah ke facebook, hingga dukungan konten video sehingga kita bisa berbagi video ataupun menonton cuplikan video pendek secara streaming dengan media facebook..

Semakin lama facebook semakin mirip dengan situs berbagi video Youtube.

Lebih jauh lagi, selama beberapa bulan facebook terus mengirimkan pemberitahuan kepada diri saya untuk bergabung dan membuat akun Instagram dengan dalih sebagian besar teman facebook sudah memiliki akun instagram.

Pada awalnya saya mengabaikan pemberitahuan ini karena saya menganggap hal seperti ini bukanlah sesuatu yang penting. Namun apa jadinya jika Facebook terus mengirimkan pemberitahuan skaligus bujukan seperti ini selama terus menerus hingga bertahun tahun?

Pada akhirnya saya luluh juga dan mulai menggunakan Instagram. Namun faktanya adalah, instagram tak jauh beda dengan Twitter. Dimana hanya cocok untuk seorang selebritis atau pebisnis yang berusaha mempromosikan franchise miliknya.

Sama sekali tak berguna bagi orang non selebritis. Jika pembaca adalah tipe pengguna seperti saya, yang hanya menggunakan media sosial untuk terhubung dengan teman lama, bermain dengan instagram maupun Twitter adalah hal yang membuang buang waktu belaka.

Membuang buang waktu adalah tindakan yang merugikan diri sendiri. Waktu yang telah berlalu tak akan pernah kita dapatkan kembali, dan seiring berjalannya waktu maka usia kita akan terus bertambah.

Begitu kita memperhatikan orang terdekat dan sekeliling yang kita kenal, ada yang sudah sukses dalam karirnya, ada juga yang sudah berhasil menemukan pasangan hidupnya, dan banyak lagi perubahan drastis yang akan menyadarkan diri kita "ternyata selama ini saya telah membuang buang waktu".


2. Kamu mulai tak merasa bahagia dengan hidupmu sendiri. 


Jika pembaca adalah pengguna sosial media dalam kurun waktu yang cukup lama seperti halnya saya, pembaca akan menyadari apa yang saya maksudkan.

Dulu ada banyak sekali teman online yang sangat dekat dan terbilang kompak dengan diri saya. Meskipun kebanyakan orang tersebut tak pernah saya jumpai secara langsung.

Dulu tiap kali update post, pasti akan ada saja yang mengkomentari status yang saya buat. Dan begitu pula sebaliknya. Tiap kali teman facebook saya mengirim sebuah post, saya akan selalu menyempatkan diri untuk mengomentarinya.

Namun tahukah pembaca sekalian hubungan seperti ini tak akan pernah berlangsung lama? secepat kita mengkonfirmasi sebuah permintaan pertemanan maka akan secepat itu pula suatu hubungan pertemanan bisa menguap dan akhirnya sirnah begitu saja.

Lain halnya dengan suatu hubungan yang diawali dengan perjumpaan secara langsung. Seorang yang menjumpai kita secara langsung, dengan bertatap muka atau sekedar berjabat tangan, akan lebih mudah menerima dan mengenal diri kita dengan lebih baik.

Facebook juga membuat saya terpaksa harus berinteraksi dengan orang orang yang tak ingin lagi saya temui. Misalkan : mantan pacar yang memiliki hubungan kekerabatan dengan sahabat karib saya,

saudara sepupu yang sikapnya sungguh menjengkelkan,
Hingga kenalan bekas rekan kerja yang suka menulis update dengan nada kasar skaligus menyindir.

Mau tak mau hal ini membuat saya merasa tak bahagia. Jika awalnya saya suka menulis sembarang post haya untuk sekedar mencurahkan emosi yang saya rasakan pada saat itu,

Kali ini saya lebih berhati hati untuk tak lagi melakukan kebiasaan ini. Sosial media dalam hal ini contohnya Facebook tak lagi menjadi tempat ideal bagi saya untuk berbagi berbagai hal yang sifatnya pribadi.


3. Harga dirimu semakin memudar. 


Percaya ataupun tidak, semakin seseorang mengandalkan sosial media sebagai sarana utama dalam berinteraksi, maka akan semakin berkurang pula keahlian seorang dalam berinteraksi sosial.

Dan akhirnya harga diri atau rasa percaya diri kita makin lama akan makin rendah. Tiap kali log in ke akun pribadi kita, maka kita akan mulai dibanjiri oleh post update teman yang jumlahnya mencapai ribuan.

setiap hari akan semakin mudah seseorang menyaksikan kabar kabar negatif yang sesungguhnya sama sekali tak sehat bagi kesehatan mental mereka.

Contoh : seorang yang baru saja putus hubungan dengan pasangannya mencoba mengakses sosial media untuk mencari penghiburan dan kebetulan bertepatan dengan hari valentine,

 maka jadilah ia dihujani berbagai post entah itu berupa tulisan selamat hari kasih sayang dari seseorang untuk pasangannya, foto foto bahagia mereka yang baru saja melangsungkan pernikahan, dan banyak lagi

Konten yang semestinya orang tersebut hindari. Bukannya malah menambah daya juang seseorang, namun malahan menjatuhkan rasa percaya diri mereka. Ini bukanlah kebiasaan yang sehat.

Contoh lainnya : semakin lama semakin bertambah jumlah pengguna usia belasan tahun yang menggunakan sosial media. Dan kebanyakan, anak usia belasan tahun akan cenderung mencari pertemanan dengan mereka yang agak hampir sebaya dengan dirinya.

Orang yang berusia belasan tahun kebanyakan enggan menjali pertemanan dengan mereka yang terlampau jauh lebih dewasa dari usianya.

Hal ini wajar saja karena seorang remaja akan merasa takut menjalin kontak dengan mereka yang lebih tua dari dirinya dan bahkan terhitung sebagai orang asing di mata sang remaja.

Pada tahap ini dapat disimpulkan, media sosial merupakan sarana yang bagus untuk terhubung dengan teman dekat asalkan, orang tersebut sudah mengenal diri kita dan sempat bertemu secara langsung dengan diri kita setidaknya dua atau tiga kali sebelumnya.


4. Kemampuan Interaksi sosial kita mulai menurun. 

Tahukah pembaca Hal yang tak bisa sosial media ajarkan pada kita adalah Interaksi soaial itu sendiri?
Fungsi utama dari teknologi digital adalah untuk mempermudah diri kita dalam berkomunikasi dengan seseorang.

Sedangkan untuk menjalin sebuah hubungan, kita HARUS bertemu dan bertatap muka langsung dengan orang tersebut. Sering kali apabila kita sedang memulai perbincangan dengan orang yang baru kita kenal,

Kita dipaksa untuk berfikir cepat guna menyambung perbincangan agar tetap berlangsung selama mungkin. Pengalaman seperti inilah yang bisa melatih kreativitas berfikir seseorang, dan sama sekali tak bisa dipelajari melalui media sosial.

Pengalaman lain seperti membaca gestur tubuh lawan bicara apakah orang yang bersangkutan menikmati pembicaraan ataukah mulai merasa bosan dengan berbagai hal yang kita utarakan. Hanya bisa kita mengerti melalui proses praktikal langsung.


5. Menyita waktu yang kita miliki. 


Sosial media seperti contohnya Facebook, di desain khusus agar bisa membuat si pengguna merasa kecanduan. Seperti halnya ketika seseorang bersama sosok yang dia rasa spesial dalam hidupnya,

Media sosial membuat otak kita menghasilkan zat kimia yang disebut "dopamine", sehingga kita merasa betah bahkan terus menerus menghabiskan waktu kita pada situs ini.

Jika di antara kalian terutama pengguna smartphone mulai merasakan rasa sakit dibagian tulang belakang dan bagian belakang leher, Hal ini mengindikasikan kita terlalu banyak menggunakan smartphone.

Dan apabila gejala ini disertai dengan biaya mobile internet provider kita makin membengkak, dua kali lipat dari sebelumnya, ada baiknya kita mulai mempertimbangkan untuk berhenti atau setidaknya mengurangi porsi bermain media sosial.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Cara menggambarkan kesan horor di atas kertas.

4 cara jitu untuk meningkatkan rasa percaya diri.

4 hal ini baru akan kita sadari begitu mulai tumbuh dewasa sepenuhnya.